Cari Blog Ini

Kamis, 16 Mei 2019

320+ Nama Gunung di Indonesia Lengkap Beserta Ketinggian & Letaknya

 

Daftar 320+ Nama Gunung di Indonesia Lengkap Beserta Ketinggian dan Letaknya – Indonesia adalah negara dengan kekayaan alam yang luar biasa, terdapat banyak sekali gunung gunung yang membentang dari sabang sampai merauke. Hampir di setiap pulau dan provinsi di Indonesia terdapat sebua gunung yang menjulang dengan ketinggian yang berbeda beda. Sedangkan nama gunung di Indonesia yang paling tinggi adalah Puncak Jaya yang berada di Papua.
320+ Nama Gunung di Indonesia Lengkap Beserta Ketinggian & Letaknya
Gunung sendiri adalah sebuah bentuk tanah yang menonjol di atas wilayah sekitarnya. Gunung adalah bagian dari permukaan bumi yang menjulang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Sebuah gunung biasanya lebih tinggi dan curam dari sebuah bukit.
Sebuah gunung biasanya terbentuk dari gerakan tektonik lempeng, gerakan orogenik atau gerakan epeirogenik. Pegunungan merupakan kumpulan atau barisan gunung. Pada beberapa ketinggian gunung bisa memiliki dua atau lebih iklim, jenis tumbuh- tumbuhan, dan kehidupan yang berbeda.
Gunung sendiri terbagi menjadi beberapa jenis dan tipe diantaranya adalah gunung api, gunung lipatan dan gunung patahan. Ketiga tipe ini terbentuk dari lempeng tektonik ketika bagian dari kerak bumi bergerak, roboh dan tenggelam.
Gunung gunung di indonesia ini membawa manfaat yang besar bagi indonesia salah satunya sebagai tujuan wisata dan pendakian. Tak jarang turis mancanegara pun datang berkunjung di berbagai gunung di tanah air.

Daftar Nama Nama Gunung di Indonesia

Lalu apa saja nama nama gunung di Indonesia ini yang jumlahnya mencapai ratusan gunung? Simak berikut ini daftar nama gunung di Indonesia lengkap beserta ketinggain dan letaknya.
Nama Gunung di Aceh
  • Gunung Abong-abong (3.015 m)
  • Gunung Bandahara (3.030 m)
  • Gunung Bateekeubeu (2.840 m)
  • Gunung Bateemecica (1.140 m)
  • Gunung Bumi Geureudong (2.670 m)
  • Gunung Bumi Telong (2.600 m)
  • Gunung Geureudong (2.590 m)
  • Gunung Leuser (4.446 m)
  • Gunung Mueajan (3.079 m)
  • Gunung Panet Sagu (3.019 m)
  • Gunung Panjang (2.023 m)
  • Gunung Perkison (2.532 m)
  • Gunung Segama (2.015 m)
  • Gunung Sorik Merapi (2.145 m)
  • Gunung Tangga (2.500 m)
  • Gunung Tinjaulaut (2.105 m)
  • Gunung Ulumasen (2.390 m)
Nama Gunung di Sumatera Utara
  • Gunung Sibayak (2.212 m) –
  • Gunung Sibuaten (2.457 m)
  • Gunung Sihapuabu (….. m)
  • Gunung Sinabung (2.475 m)
  • Gunung Sorik Marapi (2.145 m)
Nama Gunung di Riau
  • Gunung Djadi (1.100 m)
  • Gunung Daik (1.165 m)
  • Gunung Jantan (700 m)
  • Gunung Ranai (1.035 m)
Nama Gunung di Sumatra Barat
  • Gunung Ambun (2.060 m)
  • Gunung Cermin (….. m)
  • Gunung Kelabu (2.179 m)
  • Gunung Kerinci (3.805 m)
  • Gunung Mande Rabiah (2.430 m)
  • Gunung Marapi (2.891 m)
  • Gunung Pasaman (2.190 m)
  • Gunung Rasan (2.039 m)
  • Gunung Sago (2.261 m)
  • Gunung Singgalang (2.877 m)
  • Gunung Talamau (2.913 m)
  • Gunung Talang (2.572 m)
  • Gunung Tambin (2.271 m)
  • Gunung Tandikat (2.438 m)
Nama Gunung di Sumatera Selatan
  • Dempo
  • Dingin (perbatasan dengan Bengkulu)
  • Hitam (perbatasan dengan Bengkulu)
  • Patah
Nama Gunung di Jambi
  • Gedang Seblat (perbatasan dengan Bengkulu)
  • Kerinci
  • Masurai
Nama Gunung di Lampung
  • Gunung Betung
  • Gunung Krakatau (di Selat Sunda)
  • Pesagi
  • Gunung Pesawaran
  • Pugung
  • Punggur
  • Rajabasa
  • Ratai
  • Ridingan
  • Sekincau
  • Gunung Seminung
  • Tanggamus
  • Tanggang
  • Tangkit Cumbi
  • Tangkit Tebak
Nama Gunung di Kepulauan Bangka Belitung
  • Maras
Nama Gunung di Bali
  • Gunung Abang (2.152 m)
  • Gunung Agung (3.142 m)
  • Gunung Batukau (2.276 m)
  • Gunung Batur (1.717 m)
  • Gunung Catur (2.098 m)
  • Gunung Sangiang (2.087 m)
Nama Gunung di Bengkulu
  • Gunung Bapagat (2.732 m)
  • Gunung Dempo (3.159 m)
  • Gunung Dingin (2.020 m)
  • Gunung Gadang (2.466 m)
  • Gunung Patah (2.817 m)
  • Gunung Runcing (2.221 m)
  • Gunung Seblat (2.883 m)
  • Gunung Tangkitlebak (2.115 m)
Nama Gunung di Papua
  • Gunung Puncak Carstenz Pyramid (4,884 m)
  • Puncak Jaya (4,860 m)
  • Puncak Trikora (4,730 m)
  • Puncak Idenburg (4,643 m)
  • Gunung Dom (1,332 m)
  • Gunung Derabaro (4,150 m)
  • Gunung Yamin (4,595 m)
  • Gunung Yaramamafaka (3,370 m)
  • Gunung Redoura (3,083 m)
  • Gunung Togwomeri (2,680 m)
  • Puncak Mandala (4,640 m)
  • Ngga Pilimsit(4,717 m)
  • Gunung Foja (1,800 m)
  • Gunung Cyrcloop (2,034 m)
Nama Gunung di Kalimantan Barat
  • Gunung Palung (1.116 m)
  • Gunung Niut (1.701 m)
  • Gunung Batu (1.428 m)
  • Gunung Denyukbatu (1.670 m)
  • Gunung Batutenebong (1.580 m)
  • Gunung Madi (1.319 m)
Nama Gunung di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat
  • Gunung Kerihun (1.790 m) Kalimantan Barat – Kalimantan Tengah
  • Gunung Mangtajung (1.525 m) Kalimantan Barat – Kalimantan Tengah
  • Gunung Liangpahang (1.650 m) Kalimantan Barat- Kalimantan Tengah
  • Gunung Betikap (1.569 m) Kalimantan Barat – Kalimantan Tengah
  • Gunung Asing (1.703 m) Kalimantan Barat – Kalimantan Tengah
  • Gunung Panjang (1.613 m) Kalimantan Barat – Kalimantan Tengah
  • Gunung Bukit Raya (2.278 m) Kalimantan Tengah
Nama Gunung di Kalimantan Timur
  • Gunung Liangpran (2.240 m)
Nama Gunung di Kalimantan Selatan
  • Gunung Halau-halau (1.892 m)
Nama Gunung di Maluku
  • Gunung Binaiya (3.019 m)
  • Gunung Gamalama (2.700 m)
  • Gunung Kapaladmada (2.429 m)
  • Gunung Laworkawra (4.481 m)
  • Gunung Legatala (4.241 m)
  • Gunung Nieuwerkerk (4.185 m)
  • Gunung Serawema (4.355 m)
  • Gunung Sibela (2.111 m)
  • Gunung Wetar (5.282 m)
  • Gunung Wurlali (4.668 m)
Nama Gunung di Nusa Tenggara Barat
  • Iliboleng
  • Inierie
  • Kelimutu
  • Lewotobi
  • Mutus
  • Rinjani
  • Sangeang/Sangiang
  • Tambora
Nama Gunung di Nusa Tenggara Timur
  • Batutara
  • Egon
  • Gunung Fatu Timao
  • Iliwerung
  • Ine Lika
  • Gunung Lakaan
  • Lewotolo
  • Gunung Mutis
  • Sirung
Nama Gunung di Sulawesi Selatan
  • Gunung Anuan (3.673 m)
  • Gunung Balease (3.016 m)
  • Gunung Gandadinata (3.074 m)
  • Gunung Kabinturu (2.655 m)
  • Gunung Kambuno (2.950 m)
  • Gunung Lampobatang (2.871 m)
  • Gunung Paroreang (2.616 m)
  • Gunung Rantemado (3.445 m)
  • Gunung Sinajai (2.669 m)
  • Gunung Tolondokalaud (2.884 m)
Nama Gunung di Sulawesi Tengah
  • Gunung Butumpu (2.400 m)
  • Gunung Daku (2.304 m)
  • Gunung Dali (2.253 m)
  • Gunung Dampal (2.304 m)
  • Gunung Gawalisi (2.023 m)
  • Gunung Gentilomatinan (2.207 m)
  • Gunung Kulawi (3.311 m)
  • Gunung Lambuno (2.443 m)
  • Gunung Lompopana (2.480 m)
  • Gunung Lumut (2.234 m)
  • Gunung Mad (2.552 m)
  • Gunung Malino (2.443 m)
  • Gunung Maruwali (2.280 m)
  • Gunung Nokilalaki (2.355 m)
  • Gunung Ogoamas (2.565 m)
  • Gunung Pekawa (2.314 m)
  • Gunung Rerekautimdu (2.508 m)
  • Gunung Salai (2.040 m)
  • Gunung Sidole (2.099 m)
  • Gunung Sonjo (3.225 m)
  • Gunung Tambusisi (2.422 m)
  • Gunung Tanamatua (2.543 m)
  • Gunung Tinombala (2.183 m)
  • Gunung Towengkeli (2.229 m)
  • Gunung Tumpu (2.400 m)
Nama Gunung di Sulawesi Tenggara
  • Gunung Mengkoka (2.790 m)
  • Gunung Watuwila (2.000 m)
Nama Gunung di Sulawesi Utara
  • Gunung Awu (3.330 m)
  • Gunung Boliohutu (2.065 m)
  • Gunung Colo (2.509 m)
  • Gunung Karangetung (2.700 m)
  • Gunung Klabat (2.022 m)
  • Gunung Tentolomatinan (2.207 m)
Nama Gunung di Jawa Barat
  • Gunung Bedil
  • Gunung Bukit Tunggul/Gunung Bukitunggul
  • Burangrang
  • Gunung Boled
  • Gunung Ciremai/Cereme/Ceremai
  • Gunung Cikurai/Cikuray
  • Galunggung
  • Gede
  • Gunung Geulis
  • Guntur
  • Karang
  • Gunung Kencana/Kancana
  • Gunung Lalakon
  • Gunung Lamajang
  • Malabar
  • Gunung Manglayang
  • Gunung Mandalawangi
  • Masigit
  • Pangrango
  • Papandayan
  • Patuha
  • Gunung Puncak Besar
  • Gunung Riung Gunung
  • Salak
  • Gunung Sanggabuana
  • Tampomas
  • Gunung Tangkuban Perahu
  • Telaga Bodas
  • Gunung Tilu Pangalengan/Tilu
  • Wayang
  • Windu
Nama Gunung di Banten
  • Aseupan
  • Gunung Halimun
  • Gunung Karang
  • Gunung Krakatau (di Selat Sunda)
  • Pulasari
Nama Gunung di Jawa Tengah
  • Gajah
  • Lasem
  • Lawu (perbatasan dengan Jatim)
  • Merapi
  • Merbabu
  • Muria
  • Prahu
  • Rogojembangan
  • Slamet
  • Sumbing
  • Sundoro
  • Ungaran
Nama Gunung di Yogyakarta
  • Kucir
Nama Gunung di Jawa Timur
  • Gunung Anjasmara/Anjasmoro
  • Argomayang
  • Argopuro
  • Arjuno
  • Baluran
  • Gunung Batok
  • Butak
  • Bromo
  • Kawah Ijen
  • Kawi
  • Kembar I
  • Kembar II
  • Kelud
  • Lamongan
  • Lawu (perbatasan dengan Jateng)
  • Liman
  • Lurus
  • Pandan
  • Panderman
  • Penanggungan
  • Raung
  • Semeru
  • Suket
  • Welirang
  • Wilis
Demikianlah informasi tentang daftar 320+ nama gunung di Indonesia lengkap beserta letak dan ketinggiannya. Semuanya adalah bukt kekayaan alam Indonesia. Semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan ilmu pengetahuan kita semua tentang gunung gunung yang ada di Indonesia.



DUHAI KASIHGambar mungkin berisi: 1 orang, berdiri, gunung, langit, luar ruangan dan alam


Duhai Kasih
Di subuh pertama ini
Kau beri kami kasih abadi
Tetesan berkah nan murni
Duhai Kasih
Biarkan berkah ini
Jangan lagi kau uji kami
Cukup kemarin
Kau rubah berkah jadi nestapa
Duhai Kasih
Dalam irama indah berkahmu
Berikan kami pengobat waktu
Ampuni dosa kami dahulu
Duhai Kasih
Berikan kami kesempatan
Untuk tetap dalam jalan mu
Berikan kami kekuatan
Tuk tetap tawadu

Rabu, 15 Mei 2019


 SEJARAH DAN KODE ETIK PECINTA ALAM
panrannuangkuadventure@gmail.com
ig:panrannuangkuadventure10389187_772930116110345_6077614685190818869_n

Pecinta Alam Harus Tau Sejarah ini

istilah Pecinta Alam di Indonesia sebenarnya belum lama dikenal. Dahulu memang sudah ada kelompok-kelompok yang bergerak di bidang lingkungan hidup dan konservasi alam. Sejarah tentang kelompok Pecinta Alam, terutama yang ada kaitannya dengan upaya pelestarian alam, sudah tercatat sejak tahun 1912, dengan terbentuknya De Nederlandsh Indische Vereneging Tot Natuur Rescherming. Kemudian Pemerintah Hindia Belanda mulai terlibat secara konkret sejak tahun 1937, dengan terbentuknya Bescherming Afdeling Van’t Land Plantetuin. Sejak saat itu kegiatan kepecintaalaman mulai berkembang di Indonesia.
Pada Awal tahun 1960-an kegiatan yang berorientasi pada pelestarian alam ini mendapat pengaruh yang cukup besar dari kegiatan kepanduan (scouting). Pandu, yang kini dikenal dengan nama Pramuka, berkembang pesat sejak tahun 1940-an, dan memang jenis kegiatan yang sering dilakukannya adalah kegiatan olahraga, rekreasi, petualangan, membaca jejak dan ketrampilan lainnya. Mau tidak mau, memang harus kita akui, bahwa kegiatan kepecintaalaman bertambah muatannya dengan jenis-jenis kegiatan petualangan karena adanya pengaruh dari kepanduan.
Istilah “Pecinta Alam” pertama kali diperkenalkan oleh Mapala Universitas Indonesia pada tahun 1975. Setelah berulang kali berganti nama, akhirnya mereka menamakan kelompoknya Mapala UI. Setelah itu, terutama di era 1980-an, perkembangan kelompok-kelompok Pecinta Alam semakin pesat di seluruh tanah air, sampai sekarang ini.
Pecinta Alam
Kalau kita menilik asal katanya, ‘Pecinta’ artinya orang yang mencintai, dan alam dapat diartikan segala sesuatu yang ada di sekitar kita. Kalau kita perjelas lagi, alam berarti segalanya, baik benda hidup maupun benda tak hidup, yang ada di dunia ini. Udara, tanah, dan air merupakan bagian dari alam yang membantu kelangsungan hidup kita. Demikian pula dengan tanaman, hewan, dan manusia,mereka termasuk bagian dari alam ini. Keberadaan mereka satu dengan yang lain saling mempengaruhi. Jadi, jelas bahwa diri kita masing-masing pun merupakan bagian dari alam semesta ini. Lalu dapatkah kita mengatakan bahwa Pecinta Alam adalah orang yang mencintai alam semesta beserta isinya, termasuk dirinya sendiri. Bagaimana pula dengan mereka yang memiliki hobby bertualang di alam bebas? Dapatkah mereka kita sebut Pecinta Alam? Tampaknya memang ada kerancuan makna dalam istilah “Pecinta Alam” tersebut: antara mereka yang mencintai alam (lingkungan) dengan mereka yang gemar berpetualang di alam bebas. Sebagai pembanding, di Eropa dan Amerika ada suatu terminologi yang jelas bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia kepecintaalaman, misalnya envi-ronmentalist (pecinta lingkungan hidup: Green Peace), naturlist (pecinta alam seperti sebagaimana adanya), adventure (petualangan/penjelajah), mountaineers (pendaki gunung), outdoor sports/activities (olahraga alam bebas: berkemah, gantole, menelusuri gua , masuk hutan, menyususri gua, dan semestinya).
Di Indonesia, Pecinta Alam adalah pendaki gunung, penulusuran gua, pengarungan sungai, pemanjat tebing dan sekaligus pecinta lingkungan. Hingga saat ini baru sedikit kelompok yang mengkhususkan aktivitasnya pada salah satu bidang saja. Oleh karena itu, mungkin akan lebih tepat bila dikatakan bahwa Pecinta Alam adalah orang-orang yang menCINTAI ALAM beserta segala isinya, dan yang menCINTAI petualangan alam bebas.
Istilah Pecinta Alam di Indonesia sebenarnya belum lama dikenal. Dahulu memang sudah ada kelompok-kelompok yang bergerak di bidang lingkungan hidup dan konservasi alam. Sejarah tentang kelompok Pecinta Alam, terutama yang ada kaitannya dengan upaya pelestarian alam, sudah tercatat sejak tahun 1912, dengan terbentuknya De Nederlandsh Indische Vereneging Tot Natuur Rescherming. Kemudian Pemerintah Hindia Belanda mulai terlibat secara konkret sejak tahun 1937, dengan terbentuknya Bescherming Afdeling Van’t Land Plantetuin. Sejak saat itu kegiatan kepecintaalaman mulai berkembang di Indonesia. Pada Awal tahun 1960-an kegiatan yang berorientasi pada pelestarian alam ini mendapat pengaruh yang cukup besar dari kegiatann kepanduan (scouting). Pandu, yang kini dikenal dengan nama Pramuka, berkembang pesat sejak tahun 1940-an, dan memang jenis kegiatan yang sering dilakukannya adalah kegiatan olahraga, rekreasi, petualangan, membaca jejak dan ketrampilan lainnya. Mau tidak mau, memang harus kita akui, bahwa kegiatan kepecintaalaman bertambah muatannya dengan jenis-jenis kegiatan petualangan karena adanya pengaruh dari kepanduan. Istilah “Pecinta Alam” pertama kali diperkenalkan oleh Mapala Universitas Indonesia pada tahun 1975. Setelah berulang kali berganti nama, akhirnya mereka menamakan kelompoknya Mapala UI. Setelah itu, terutama di era 1980-an, perkembangan kelompok-kelompok Pecinta Alam semakin pesat di seluruh tanah air, sampai sekarang ini.
Aktivitas Pecinta Alam (di Indonesia)
Kegiatan Pecinta Alam termasuk dalam kegiatan yang mempunyai resiko tinggi (high risk activity) dan kegiatan lebih banyak dilakukan di alam bebas (outdoor activity). Sebagian besar kelompok Pecinta Alam memiliki kegiatan pokok dalam bidang kegiatan alam bebas seperti pendakian gunung, pemanjatan tebing, penelusuran gua, jelajah hutan, penelusuran sungai, penyusuran pantai, dan arung jeram. Kegiatan-kegiatan tersebut perlu didukung dengan pengetahuan dan kegiatan penunjang seperti pengetahuan tentang orientasi medan (navigasi), pengetahuan survival, ketrampilan tali-temali, pengepakan peralatan, penguasaan PPPK, dan pengetahuan sekaligus ketrampilan mengenai SAR. Kegiatan penunjang tersebut akan banyak membantu dan diperlukan untuk menghindari atau mengurangi resiko yang sangat mungkin terjadi. Disamping itu Pecinta Alam masih perlu didukung dengan pengetahuan dan kegiatan dalam bidang lingkungan hidup seperti konservasi alam, penghijaun, bersih lingkungan, dan sebagainya. Juga kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat seperti bakti sosial, penelitian sosial, penyuluhan, dan sebagainya. Terakhir adalah kegiatan yang bersifat organisatoris seperti manajemen organisasi, regenerasi keanggotaan, kaderisasi anggota, pengembangan SDM bagi anggota, dan seterusnya. Jelas kiranya bahwa Pecinta Alam merupakan suatu kegiatan yang positif dan memiliki arti serta peran yang sangat bermanfaat bagi pengembangan pribadi, orang lain dan masyarakat. Satu pertanyaan tersisa adalah : “Mampukah kita memanfaatkan kesempatan untuk mengembangkan diri kita melalui kegiatan kepecintaalaman ? Materi Pencinta Alam didalam aktivitasnya sehari-hari sebagaimana yang dimaknakan dalam unsur kata Cinta dan Alam.” Ingatlah hai engkau penjelah alam :
1.Take nothing, but pictures [jangan ambil sesuatu kecuali gambar]
2.Kill nothing, but times [jangan bunuh sesuatu kecuali waktu]
3.Leave nothing, but foot-print [jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak kaki] dan senantiasa ;
1.Percaya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa
2.Percaya kepada kawan [dalam hal ini kawan adalah rekan penggiat dan
peralatan serta perlengkapan, tentu saja juga harus dibarengi bahwa diri kita sendiri juga dapat dipercaya oleh “teman” tersebut dengan menjaga, memelihara dan melindunginya]
3.Percaya kepada diri sendiri, yaitu percaya bahwa kita mampu melakukan segala sesuatunya dengan baik.
Sejarah Pencinta Alam Serta Perkembangannya
Apabila sejenak kita merunut dari belakang, sebetulnya sejarah manusia tidak jauh-jauh amat dari alam. Sejak zaman prasejarah dimana manusia berburu dan mengumpulkan makanan, alam adalah “rumah” mereka. Gunung adalah sandaran kepala,padang rumput adalah tempat mereka membaringkan tubuh, dan gua-gua adalah tempat mereka bersembunyi. Namun sejak manusia menemukan kebudayaan, yang katanya lebih “bermartabat”, alam seakan menjadi barang aneh. Manusia mendirikan rumah untuk tempatnya bersembunyi. Manusia menciptakan kasur untuk tempatnya membaringkan tubuh, dan manusia mendirikan gedung bertingkat untuk mengangkat kepalanya. Manusia dan alam akhirnya memiliki sejarahnya sendiri-sendiri. Ketika keduanya bersatu kembali, maka ketika itulah saatnya Sejarah Pecinta Alam dimulai :
Pada tahun 1492 sekelompok orang Perancis di bawah pimpinan Anthoine de Ville mencoba memanjat tebing Mont Aiguille (2097 m), dikawasan Vercors Massif. Saat itu belum jelas apakah mereka ini tergolong pendaki gunung pertama. Namun beberapa dekade kemudian, orang-orang yang naik turun tebing-tebing batu di Pegunungan Alpen adalah para pemburu chamois, sejenis kambing gunung. Barangkali mereka itu pemburu yang mendaki gunung. Tapi inilah pendakian gunung yang tertua pernah dicatat dalam sejarah. Di Indonesia, sejarah pendakian gunung dimulai sejak tahun 1623 saat Yan Carstensz menemukan “Pegunungan sangat tinggi di beberapa tempat tertutup salju” di Papua. Nama orang Eropa ini kemudian digunakan untuk salah satu gunung di gugusan Pegunungan Jaya Wijaya yakni Puncak Cartensz. Pada tahun 1786 puncak gunung tertinggi pertama yang dicapai manusia adalah puncak Mont Blanc (4807 m) di Prancis. Lalu pada tahun 1852 Puncak Everest setinggi 8840 meter ditemukan. Orang Nepal menyebutnya Sagarmatha, atau Chomolungma menurut orang Tibet. Puncak Everest berhasil dicapai manusia pada tahun 1953 melalui kerjasama Sir Edmund Hillary dari. Selandia Baru dan Sherpa Tenzing Norgay yang tergabung dalam suatu ekspedisi Inggris. Sejak saat itu, pendakian ke atap-atap dunia pun semakin ramai.
Di Indonesia sejarah pecinta alam dimulai dari sebuah perkumpulan yaitu “Perkumpulan Pentjinta Alam”(PPA). Berdiri 18 Oktober 1953. PPA merupakan perkumpulan Hobby yang diartikan sebagai suatu kegemaran positif serta suci,terlepas dari ‘sifat maniak’yang semata-mata melepaskan nafsunya dalam corak negatif. Tujuan mereka adalah memperluas serta mempertinggi rasa cinta terhadap alam seisinya dalam kalangan anggotanya dan masyarakat umumnya. Sayang perkumpulanini tak berumur panjang. Penyebabnya antara lain faktor pergolakan politik dan suasana yang belum terlalu mendukung sehingga akhirnya PPA bubar di akhir tahun
1960. Awibowo adalah pendiri satu perkumpulan pencinta alam pertama di tanah air mengusulkan istilah pencinta alam karena cinta lebih dalam maknanya daripada gemar/suka yang mengandung makna eksploitasi belaka, tapi cinta mengandung makna mengabdi. “Bukankah kita dituntut untuk mengabdi kepada negeri ini?.” Sejarah pencinta alam kampus pada era tahun 1960-an. Pada saat itu kegiatan politik praktis mahasiswa dibatasi dengan keluarnya SK 028/3/1978 tentang pembekuan total kegiatan Dewan Mahasiswa dan Senat Mahasiswa yang melahirkan konsep Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK). Gagasan ini mula – mula dikemukakan Soe Hok Gie pada suatu sore, 8 Nopember 1964, ketika mahasiswa FSUI sedang beristirahat setelah mengadakan kerjabakti di TMP Kalibata. Sebenarnya gagasan ini, seperti yang dikemukakan Soe Hok Gie sendiri, diilhami oleh organisasi pencinta alam yang didirikan oleh beberapa orang mahasiswa FSUI pada tanggal 19 Agustus 1964 di Puncak gunung Pangrango. Organisasi yang bernama Ikatan Pencinta Alam Mandalawangi itu keanggotaannya tidak terbatas di kalangan mahasiswa saja. Semua yang berminat dapat menjadi anggota setelah melalui seleksi yang ketat. Sayangnya organisasi ini mati pada usianya yang kedua. Pada pertemuan kedua yang diadakan di Unit III bawah gedung FSUI Rawamangun, didepan ruang perpustakaan. Hadir pada saat itu Herman O. Lantang yang pada saat itu menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa FSUI. Pada saat itu dicetuskan nama organisasi yang akan lahir itu IMPALA, singkatan dari Ikatan Mahasiswa Pencinta Alam. Setelah bertukar pikiran dengan Pembantu Dekan III bidang Mahalum, yaitu Drs. Bambang Soemadio dan Drs. Moendardjito yang ternyata menaruh minat terhadap organisasi tersebut dan menyarankan agar mengubah nama IMPALA menjadi MAPALA PRAJNAPARAMITA. Alasannya nama IMPALA terlalu borjuis. Nama ini diberikan oleh Bpk Moendardjito. Mapala merupakan singkatan dari Mahasiswa Pencinta Alam. Dan Prajnaparamita berarti dewi pengetahuan. Selain itu Mapala juga berarti berbuah atau berhasil. Jadi dengan menggunakan nama ini diharapkan segala sesuatu yang dilaksanakan oleh anggotanya akan selalu berhasil berkat lindungan dewi pengetahuan. Ide pencetusan pada saat itu memang didasari dari faktor politis selain dari hobi individual pengikutnya, dimaksudkan juga untuk mewadahi para mahasiswa yang sudah muak dengan organisasi mahasiswa lain yang sangat berbau politik dan perkembangannya mempunyai iklim yang tidak sedap dalam hubungannya antar organisasi.
Dalam tulisannya di Bara Eka 13 Maret 1966, Soe mengatakan bahwa :
“Tujuan Mapala ini adalah mencoba untuk membangunkan kembali idealisme di kalangan mahasiswa untuk secara jujur dan benar-benar mencintai alam, tanah air, rakyat dan almamaternya. Mereka adalah sekelompok mahasiswa yang tidak percaya bahwa patriotisme itu masih ada yang lebih berwenang untuk menentukan hidup dan mati seseorang.MAPALA, Pencinta alam atau Petualang ? Dua nama, pencinta alam dan petualang seolah-olah merupakan satu kesatuan utuh yang tidak bisa di pisahkan antara keduanya. Namun kalau dilihat secara etimologi kata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia akan nampak kelihatan bahwa keduanya tidak ada hubungan satu sama lainnya. Dalam KBBI, pecinta (alam) ialah orang yang sangat suka akan (alam), sedangkan petualang ialah orang yang suka mencari pengalaman yang sulit-sulit, berbahaya, mengandung resiko tinggi dsb. Dengan demikian, secara etimologi jelas disiratkan dimana keduanya memiliki arah dan tujuan yang berbeda, meskipun ruang gerak aktivitas yang dipergunakan keduanya sama, alam. Dilain pihak, perbedaan itu tidak sebatas lingkup “istilah” saja, tetapi juga langkah yang dijalankan. Seorang pencinta alam lebih populer dengan gerakan enviromentalisme-nya, sementara itu, petualang lebih aktivitasnya lebih lekat dengan aktivitas-aktivitas Adventure-nya seperti pendakian gunung, pemanjatan tebing, pengarungan sungai dan masih banyak lagi kegiatan yang menjadikan alam sebagai medianya.
Kini yang sering ditanyakan ketika kerusakan alam di negeri ini semakin parah, dimanakah pencinta alam? begitupun dengan para petualang yang menggunakan alam sebagai medianya. Bahkan Tak jarang aktivitas “mereka” berakhir dengan terjadinya tindakan yang justru sangat menyimpang dari makna sebagai pecinta alam, misalkan terjadinya praktek-paktek vandalisme. Inilah sebenarnya yang harus di kembalikan tujuan dan arahnya sehingga jelas fungsi dan gerak merekapun bukan hanya sebagai ajang hura-hura belaka. keberadaaan mereka belum mencirikan kejelasan arah gerak dan pola pengembangan kelompoknya. Jangankan mencitrakan kelompoknya sebagai pecinta alam, sebagai petualang pun tidak. Aktivitas mereka cenderung merupakan aksi-aksi spontanitas yang terdorong atau bahkan terseret oleh medan ego yang tinggi dan sekian image yang telah terlebih dulu dicitrakan, dengan demikian banyak diantara para “pencinta alam” itu cuma sebatas “gaya” yang menggunakan alam sebagai alat.
Jadilah Pentualang dan Pecinta Alam Sejati.
Salam Lestari !!!

#di ambil dari berbagai sumber


Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, orang berdiri, luar ruangan dan alam








Pencinta alam atau pecinta alam adalah istilah yang dipergunakan untuk kelompok-kelompok yang bergerak di bidang lingkungan hidup dan konservasi alam. Di Indonesia istilah ini merujuk pada kelompok yang bergerak di bidang petualangan alam bebas, seperti mendaki gunung, ekspedisi ke belantara, panjat tebing, arung jeram, susur gua, penyelaman bawah laut dan bertualang dengan perahu layar.
Istilah Pecinta Alam pertama kali diperkenalkan oleh para mahasiswa di Universitas Indonesia. Mapala UI pada tahun 1964. Para tokohnya seperti Soe Hok Gie, Herman Lantang, Aristides Katopo, dll. Setelah itu perkembangan kelompok-kelompok pecinta alam berkembang sangat pesat.

Kode etik pencinta alam

Kode etik pecinta alam Indonesia dicetuskan dalam kegiatan Gladian Nasional Pecinta Alam IV yang dilaksanakan di Pulau Kahyangan dan Tana Toraja pada bulan Januari 1974. Gladian yang diselenggarakan oleh Badan Kerja sama Club Antarmaja pencinta Alam se-Ujung Pandang ini diikuti oleh 44 perhimpunan pecinta alam se Indonesia.
Kode etik pecinta alam Indonesia ini, sampai saat ini masih dipergunakan oleh berbagai perkumpulan pecinta alam di seluruh Indonesia.
Bunyi dari kode etik pecinta alam Indonesia adalah sebagai berikut:
Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa alam beserta isinya adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa
Pecinta Alam Indonesia adalah bagian dari masyarakat Indonesia sadar akan tanggung jawab kepada Tuhan, bangsa, dan tanah air
Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa pecinta alam adalah sebagian dari makhluk yang mencintai alam sebagai anugerah yang Mahakuasa
Sesuai dengan hakikat di atas, kami dengan kesadaran menyatakan :
1. Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa
2. Memelihara alam beserta isinya serta menggunakan sumber alam sesuai dengan kebutuhannya
3. Mengabdi kepada bangsa dan tanah air
4. Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitar serta menghargai manusia sesuai martabatnya
5. Berusaha mempererat tali persaudaraan antara pecinta alam sesuai dengan asas pecinta alam
6. Berusaha saling membantu serta menghargai dalam pelaksanaan pengabdian terhadap Tuhan, bangsa dan tanah air
7. Selesai
Disyahkan bersama dalam Gladian Nasional ke-4
Ujung Pandang, 1974

Entri yang Diunggulkan

PANRANGA_LEMBAH_RAMMA

LEMBAH RAMMA Kenalnya saya dengan Lembah Ramma ini bersamaan dengan perkenalan saya dengan  Gunung Bawakaraeng . Bagaimana nggak bare...